Implementasi PER-02/MBU/2013 di BUMN Indonesia apakah sudah ..." /> Implementasi PER-02/MBU/2013 di BUMN Indonesia apakah sudah optimal? - PROXSIS IT

article

Published on February 12th, 2015 | by WP Admin PROXSIS

0

Implementasi PER-02/MBU/2013 di BUMN Indonesia apakah sudah optimal?

Implementasi PER-02/MBU/2013 di BUMN Indonesia apakah sudah optimal?

 Oleh Bpk. Andrianto Moeljono – Director of Proxsis IT

Mengawali tahun 2015,yang merupakan tahun kedua implementasi Tata Kelola Teknologi Informasi (TI) dan batas akhir penyusunan Master Plan TI di seluruh perusahaan BUMN, maka seharusnya seluruh BUMN saat ini telah siap menjalankan proses bisnis TI yang sesuai dengan best practice di dunia TI.

Lahirnya Peraturan Menteri BUMN nomor PER-02/MBU/2013 tentang Panduan Penyusunan Pengelolaan Teknologi Informasi Badan Usaha Milik Negara, sesungguhnya menjadi lompatan bagi organisasi TI di BUMN untuk dapat segera meluncur dan meraih posisi strategis dalam pengembangan bisnis BUMN.

Mungkin kita harus melihat 5-10 tahun kebelakang dimana organisasi TI dan kontribusi TI di BUMN belum menjadi enabler dalam bisnis BUMN.Pada saat itu hampir seluruh organisasi TI BUMN yang mempunyai lini bisnis selain perbankan dan teknologi hanyalah sebuah organisasi kecil dan berfungsi tidak lebih dari tempat perbaikan dan dukungan TI, sama sekali tidak mempunyai fungsi pendorong bisnis BUMN.

Lahirnya PER-02/MBU/2013 tentang Panduan Penyusunan Pengelolaan Teknologi Informasi Badan Usaha Milik Negara menjadi tonggak bagi pengembangan organisasi Ti menjadi salah satu penentu keberhasilan bisnis BUMN.

Sesuai dengan pertimbangan dalam Permen BUMN tersebut disadari bahwa TI mempunyai peranan penting dalam pengembangan bisnis BUMN, dan disadari pula bahwa prinsip-prinsip pengembangan Good Corporate Governance (GCG) di BUMN dapat dijalankan dengan memanfaatkan TI secara optimal, terukur dan terarah.

Sebuah pertanyaan besar saat ini adalah apakah implementasi PER-02/MBU/2013 sudah dapat mengoptimalkan TI, mengukur kinerja TI dan mengarahkan inisiatif TI untuk pengembanganBUMN ?

Kiranya kita perlu melihat kembali fungsi dan peran TI dalam BUMN hingga saat ini. Pada masa awal penerapan PER-02/MBU/2013 masih banyak para pimpinan BUMN serta organisasi TI mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam memahami fungsi dan peran TI dalam bisnis BUMN.

Seakan-akan tidak ada model komunikasi yang tepat untuk memberikan pemahaman kepada kedua belah pihak mengenai kemampuan TI dalam meningkatkan performa bisnis BUMN. Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi persyaratanPER-02/MBU/2013, tetapi hingga saat ini upaya implementasi masih belum optimal.Kenapa hal ini terjadi ?

Pemahaman bahwa penerapan Good Corporate Governance (GCG) oleh sebagian BUMN hanyalah upaya untuk mencegah fraud dan korupsi, bukan menjalankan proses bisnis  yang baik dan sesuai dengan best practice !

untuk mencapai visi, misi dan goal BUMN sebagai institusi yang sehat, profitable dan valuable. Bayangkan apabila seluruh BUMN menyadari bahwa TI adalah solusi tercepat dalam upaya meraih hal tersebut ! Maka investasi di TI menjadi focus utama, tetapi apakah dengan investasi TI yang besar akan mendongkrak bisnis ? tentu saja tidak !.

Apa yang dibutuhkan ?

sesuai dengan PER-02/MBU/2013, Tata Kelola TI adalah jawabannya. Kenapa Peraturan Menteri ini adalah jawabannya? karena dengan penerapan tatakelola TI yang baik maka seluruh upaya bisnis BUMN dapat didukung dan bahkan ditingkatkan.

Berbagai kerangka berfikir dan bertindak (framework) telah dituangkan dalam PER-02/MBU/2013. Termasuk didalamnya adalah model komunikasi bisnis dengan inisiatif IT, yaitu penggunaan framework TOGAF untuk menjawab kebutuhan bisnis. Penggunaan framework yang telah menjadi best practice di dunia TI tentunya akan menjawab kebutuhan dukungan TI yang berbentuk inisiatif-inisiatif dukungan bisnis.

 Selain itu framework lain juga digunakan untuk mendukung inisiatif bisnis dalam tata kelola TI yaitu COBIT, ITIL, ISO 27001, ISO 38500, dan PMBOK. TujuanPER-02/MBU/2013 untuk menjadikan TI sebagai penentu keberhasilan bisnis BUMN tentunya apabila dapat diimplementasikan seluruhnya akan merubah pemahaman BUMN dan organisasi TI.

 Gambar 1 di bawah memberikan visualisasi implementasi PER-02/MBU/2013.

 

Pengalaman dalam melaksanakan implementasiPER-02/MBU/2013 kendala utama nya adalah pemahaman top management BUMN tehadap tata kelola TI dan hampir seluruh BUMN belum mempunyai pemetaan bisnis proses yang baik. Kedua hal ini kerap kali menjadi hambatan dalam menurunkan sasaran bisnis BUMN menjadi inisiatif TI.

Hal lain yang menjadi kendala utama adalah tugas dan fungsi organisasi TI di BUMN yang belum dapat memenuhi fungsi-fungsi tata kelola TI sesuai dengan best practice karena minimnya jumlah personil dan struktur organisasinya. Kendala lain adalah pengetahuan personil TI untuk memahami proses bisnis dan perancangan inisiatif TI agar sesuai dengan visi, misi dan obyektif bisnis BUMN.

Kendala-kendala di atas menjadikanPER-02/MBU/2013 saat ini belum optimal dilaksakan oleh BUMN, namun harus disadari bahwa peran tata kelola TI di BUMN saat ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik dalam upaya lompatan bisnis BUMN untuk meningkatkan kinerja bisnisnya.

TI mempunyai nilai terhadap bisnis perusahaan apabila BUMN menyadari bahwa fungsi TI dapat meningkatkan efisiensi, meningkatkan performa, mengembangkan pasar dan bisnis, serta dapat menciptakan pasar/produk/bisnis baru seperti gambaran fungsi TI di bawah ini.

Gambar 2 Fungsi TI Perusahaan(sumber: PER-02/MBU/2013)

 

Apa yang harus dilakukan oleh BUMN untuk menerapkan Tata Kelola TI dan mendapatkan manfaat di atas ? tentunya dengan mengimplementasikannya secara baik dan konsisten. Caranya adalah sesuai dengan prinsip pengelolaan dan pengembangan manajemen yaitu Plan-Do-Check-Act (PDCA).

Dengan pengelolaan dan pengembangan manajemen maka seluruh kerangka implementasi dalam Tata Kelola TI (Pedoman, Standar, Prosedur, dan lain-lain) dapat dijalankan, dievaluasi dan di tingkatkan (improve).

 Gambar 3.Siklus PDCA (sumber: Wikipedia)

 

Tahun 2015 ini juga akan menjadi hal penting bagi BUMN karena pasar bebas ASEAN akan mulai dibuka. Maka tidak ada alasan lagi bagi BUMN untuk segera focus dalam implementasi tata kelola TI, dengan mengelola dan mengembangkan best practice TI agar dapat bersaing di pasar bisnis ASEAN yang sangat ketat ini.

Bagaimana dengan para praktisi TI di BUMN ?tentunya tidak ada alasan lagi untuk memproteksi diri dari tekanan bisnis, tetapi saat ini adalah saat yang tepat untuk eksis di BUMN sebagai enabler dan mampu menjawab kebutuhan bisnis.

Saat inilah yang paling ditunggu praktisi TI di BUMN yang telah sekian lama terkurung dalam tempurung “business support” untuk keluar dan menjadi “business enabler” dan turut serta digaris depan untuk memberikan inisiatif bisnis dan dukunganu ntuk menuju BUMN yang kuat.

 Salam Teknologi Informasi !


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑