Banjir adalah masalah yang rutin setiap tahun menghantui Jakarta. Pe..." /> Peran Sistem Informasi Bencana dalam Kurangi Dampak Banjir Jakarta - PROXSIS IT

News

Published on February 11th, 2015 | by WP Admin PROXSIS

0

Peran Sistem Informasi Bencana dalam Kurangi Dampak Banjir Jakarta

Banjir adalah masalah yang rutin setiap tahun menghantui Jakarta. Pemda telah melakukan berbagai aksi untuk mengatasi problematika ini. Tapi, banjir tetap tidak bisa dihindari, terutama di musim penghujan seperti bulan Januari dan Februari. Mau tidak mau, aparat pemerintah mesti bersiap siaga dalam menghadapi limpahan air ini.

Salah satu lembaga pemerintah yang paling sibuk ketika banjir mulai mendatangi ibukota adalah BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) DKI Jakarta. Tanggung jawab mereka sangat lengkap sebagai koordinator penanggulangan bencana, mulai dari kondisi prabencana, saat bencana terjadi, dan pascabencana.

Seperti halnya bidang-bidang lainnya, peran TI dewasa ini sangat penting dalam mendukung operasional BPBD DKI Jakarta, bahkan mampu membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa. “Di BPBD DKI, teknologi informasi ibaratnya menjadi jalan tol untuk semua aktivitas,” kata Bambang Surya Putra, M. Kom. (Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian, BPBD DKI Jakarta).

“Di BPBD DKI, teknologi informasi ibaratnya menjadi jalan tol untuk semua aktivitas,” kata Bambang Surya Putra, M. Kom. (Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian, BPBD DKI Jakarta).

Dalam situasi sebelum bencana, BPBD berfokus pada upaya pencegahan yang dimulai dengan memetakan potensi bencana. Di fase ini, mereka memanfaatkan early warning system yang menerima informasi tinggi muka air dari sensor, kamera CCTV, dan laporan petugas yang ditempatkan di pos-pos pemantauan. Ada banyak pos di Jakarta dan sekitarnya, khususnya di kawasan hulu sungai dan bendungan seperti Puncak, Katulampa (Bogor), dan Depok.

Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan air ini, BPBD bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU). Selain itu, BPBD juga menghimpun beragam masukan informasi lainnya, seperti perkiraan cuaca dari BMKG dan pohon tumbang dari Dinas Pertamanan. Data-data ini dikumpulkan dan diolah di dalam DIMS (Disaster Information Management System), sistem informasi bencana yang dikembangkan bersama dengan Fujitsu.

Jika DIMS mendeteksi adanya potensi banjir, peringatan akan ditampilkan di layar monitor besar yang terdapat di Pusdalops (Pusat Kendali Operasi) BPBD DKI. Di layar ini, ada peta aliran sungai di seluruh Jakarta. Pada kondisi tinggi muka air normal, aliran sungai ini ditandai dengan warna hijau. Saat kondisi Siaga III, warna berubah menjadi kuning. Di titik ini, akan diinformasikan RW-RW yang diprediksi mulai tergenang. Ketika terjadi eskalasi status ke Siaga II, warna kuning akan lebih gelap yang menandakan lebih banyak RW lagi yang bakal tergenang.

Early warning system terhubung dengan SMS gateway yang otomatis mengirim SMS kepada pihak-pihak terkait, seperti lurah, camat, dinas-dinas, dan pemadam kebakaran, untuk bersiap-siap. Kami informasikan dalam berapa jam air akan sampai di tempat mereka,” tukas Bambang. Harapannya, aparat setempat dapat segera memberitahu warganya tentang potensi banjir. Petugas dinas terkait pun memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pengungsian, logistik, dan sebagainya.

Aplikasi Data Bencana digunakan oleh petugas/sukarelawan yang berada di lapangan untuk melaporkan kondisi bencana.

Ketika bencana terjadi, BPBD berperan sebagai koordinator tanggap darurat. Lagi-lagi TI berfungsi antara lain untuk mempercepat pelaporan mengenai kondisi lapangan. Contohnya melalui aplikasi mobile berbasis Android “Data Bencana” yang dipakai oleh para petugas dan sukarelawan.

Data manual seperti lewat telepon dan SMS juga diterima, tapi tetap akan di-entry ke dalam sistem informasi bencana.Update data ini dilakukan setiap enam jam. Bila bencana membesar, pengambilan keputusan pun akan lebih cepat untuk menambah jalur logistik atau menambah makanan bagi pengungsi.

Setelah bencana berlalu, DIMS masih digunakan untuk melakukan damage and losses assessment (DALA). Perhitungan nilai kerusakan dan kerugian ini sangat penting karena media dan masyarakat pasti akan menanyakan hal ini kepada gubernur. “Sebelum ada sistem informasi bencana, kami menghitung DALA sampai tiga bulan. Sekarang bisa lebih singkat. Ke depan, harapan kami bisa langsung memprediksi DALA saat bencana terjadi,” ujar Bambang.

BPBD DKI Jakarta merasakan benar manfaat dari DIMS yang telah dioperasikan sejak Desember 2013 lalu. Segala feature yang membantu kemudahan operasional BPBD mulai fase sebelum sampai sesudah bencana juga turut berperan dalam menekan jumlah korban jiwa.

Di tahun 2013, ada 38 orang meninggal dalam musibah banjir. Setelah penerapan teknologi di tahun 2014, angka ini berkurang menjadi 25 orang. “Tentu saja kami belum puas. Inginnya sih bisa sampai zero victim,” sebut Bambang.

Source : http://www.infokomputer.com/


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑